Gue baru aja selesai nonton film sendirian. Bioskop di Jakarta Selatan. Studio besar. Kursi nyaman. Gue pesan kursi tengah. Nggak ada teman. Nggak ada pasangan. Nggak ada keluarga. Cuma gue. Sendiri. Dulu, gue nggak pernah. Dulu, gue takut. Takut dilihat sendirian. Takut dibilang kesepian. Takut dibilang nggak punya teman. Dulu, gue lebih milih nggak nonton daripada nonton sendirian. Sekarang? Sekarang gue lebih sering nonton sendirian daripada bareng orang. Bukan karena gue anti-sosial. Tapi karena gue sadar: nonton film adalah pengalaman personal. Pengalaman yang butuh kehadiran penuh. Tanpa distraksi. Tanpa bisik-bisik. Tanpa tanya “ini siapa?” Tanpa “nggak ngerti aku.” Tanpa “ayo pulang sebentar lagi.” Gue bisa hanyut. Gue bisa menangis tanpa malu. Gue bisa tertawa tanpa takut dilihat. Gue bisa diam setelah film selesai. Mencerna. Merasa. Menjadi diam bersama cerita. Gue nggak sendirian. Maret 2026 ini, ada fenomena yang makin kuat. Generasi urban 20-35 tahun mulai lebih memilih nonton film di bioskop sendirian. Solo screening. Mereka datang sendiri. Duduk sendiri. Nonton sendiri. Pulang sendiri. Bukan karena mereka anti-sosial. Tapi karena mereka memilih hadir sepenuhnya untuk diri dan cerita yang ditonton. Solo Screening: Ketika Sendiri Bukan Berarti Sepi Gue ngobrol sama tiga orang yang menjadikan solo screening sebagai pilihan utama. Cerita mereka berbeda. Tapi kesimpulannya sama: sendiri bukan kesepian. Sendiri adalah kebebasan. 1. Dina, 26 tahun, graphic designer, penggemar film indie. Dina sering nonton film indie yang jarang ditonton teman-temannya. “Teman-teman saya lebih suka film komersial. Marvel. DC. Horor Indonesia. Kalau saya ajak nonton film indie yang slow burn, mereka bosan. Mereka ngantuk. Mereka bisik-bisik tanya kapan selesai. Saya nggak bisa menikmati.” Dina mulai nonton sendirian. “Awalnya saya malu. Saya pikir orang akan melihat saya. Tapi setelah beberapa kali, saya sadar. Nggak ada yang melihat. Mereka sibuk dengan diri mereka sendiri. Dan saya bisa menikmati film dengan tenang. Saya bisa hanyut. Saya bisa menangis. Saya bisa diam. Saya bisa merenung. Itu pengalaman yang nggak bisa saya dapatkan kalau nonton bareng orang.” 2. Andra, 30 tahun, software engineer, introvert …







